Penulis : Alfarizi
Gerakan mahasiswa hari ini tidak sedang kehilangan keberanian. Mahasiswa masih turun ke jalan, melakukan konsolidasi, menyuarakan kritik, membangun solidaritas, bahkan mampu menggerakkan masa dalam waktu yang relatif singkat. Namun, dibalik kemampuan mobilisasi tersebut terdapat persoalan yang lebih mendasar yakni, gerakan mahasiswa sedang mengalamai krisis patron dalam gerakan.
Pada masa-masa sebelumnya, gerakan mahasiswa memiliki figur-figur yang menjadi rujukan dalam menentukan arah perjuangan. Figur tersebut berupa senior, aktivis, intelektual, atau tokoh yang memiliki pengalaman panjang dalam gerakan. Kehadirannya sangat mungkin memberikan semacam orientasi pada gerakan , bagaimana membaca keadaan, bagaimana menentukan sikap, bagaimana membangun konsolidasi, dan yang paling penting adalah untuk apa sebuah gerakan harus dilakukan.
Patron dalam konteks ini tidak seharusnya dipahami sebagai seseorang yang selalu diikuti atau ditaati. Patron lebih tepat dilihat sebagai ruang rujukan. Ia menjadi tempat bertemunya pengalaman, pengetahuan nilai, dan tradisi perjuangan, dari sanalah seseorang tidak hanya belajar bagaimana melakukan aksi, tetapi juga belajar mengapa ia harus bergerak.
Persoalannya, pola tersebut perlahan mengalami perubahan.
Generasi mahasiswa hari ini tumbuh dalam ekosistem digital. Yang dimana informasi tidak lagi diperoleh hanya melalui forum diskusi, buku, senior, organisasi, atau ruang-ruang kaderisasi. Media sosial telah menjadi ruang utama dalam memperoleh pengetahuan dan menentukan perhatian. Apa yang dianggap penting sering kali ditentukan oleh apa yang sedang ramai dibicarakan.
Perubahan tersebut tentu tidak sepenuhnya buruk. Media digital justru memungkinkan mahasiswa memperoleh informasi dengan lebih cepat, membangun jaringan lintas wilayah, dan melakukan mobilisasi secara luas. Namun, terdapat konsekuensi yang perlu diperhatikan ketika kecepatan informasi tidak diimbangi dengan kedalaman proses berpikir.
Pada titik inilah muncul kecenderungan gerakan yang reaksioner.
Gerakan reaksioner bukan berarti gerakan yang salah atau tidak memiliki nilai perjuangan. Reaksi terhadap ketidakaadilan merupakan sesuatu yang penting dalam kehidupan sosial. Persoalannya muncul ketika gerakan hanya mampu merespons apa yang sedang terjadi, tetapi tidak memiliki agenda yang lebih panjang mengenai apa yang hendak diperjuagkan.
Gerakan kemudian bergerak mengikuti momentum atau bisa dikatakan gerakan momentual. Ketika suatu isu menjadi viral, gerakan muncul. Ketika perhatian publik berpindah, gerakan ikut berpindah. Akibatnya, energi mahasiswa dapat sangat besar dalam jangka pendek, tetapi tidak selalu menghasilkan konsolidasi dan perubahan yang berkelanjutan.
Pada kondisi seperti ini, muncul pula perubahan terhadap siapa yang menjadi sumber pengaruh?
Jika sebelumya seorang mahasiswa memperoleh orientasi gerakan melalui proses kaderisasi dan interaksi dengan figur-figur yang memiliki pengalaman panjang, kini pengaruh tersebut dapat datang dari seorang influencer atau figur digital. Seseorang dapat memiliki pengaruh yang sangat besar bukan karena pengalaman panjangnya dalam gerakan, melainkan karena kemampuan membangun perhatian diruang digital. Disinilah kita mendapat perubahan penting, dari patron gerakan menuju figur digital.
Patron lahir melalui proses panjang, sedangkan pengaruh digital dapat terbentuk melalui popularitas. Patron dalam hal ini dibangun melalui pengalaman dalam gerakan dan proses kaderisasi, sementara influencer memperoleh otoritas terutama melalui kemampuan memengaruhi perhatian publik.
Perbedaan ini tidak berarti bahwa influencer selalu buruk dan patron selalu baik. Persoalannya adalah dasar legitimasi tersebut. Gerakan mahasiswa perlu bertanya, apakah seseorang diikuti karena gagasannya, pengalaman perjuangannya, kemampuan intelektualnya, atau semata-mata karena popularitasnya?
Pertanyaan tersebut menjadi penting karena gerakan mahasiswa pada dasarnya bukan sekedar gerakan massa. Ia merupakan gerakan intelektual sekaligus gerakan sosial. Mahasiswa memiliki posisi strategis karena berada dalam ruang pendidikan yang memungkinkan mereka mengembangkan tradisi berpikir kritis.
Karena itu, tantangan terbesar gerakan mahasiswa hari ini sebenarnya bukan mencari figur yang dapat menggantikan patron lama. Tantangannya adalah membangun kembali proses yang mampu melahirkan figur-figur baru. Patron tidak dicari sebagai individu yang harus disembah atau dijadikan pusat kebenaran. Patron seharusnya lahir dari kaderisasi yang sehat. Dari ruang diskusi yang hidup, tradisi membaca, dari pengalaman advokasi, dari keberanian menghadapi persoalan, bahkan kemampuan memahami masyarakat.
Dengan demikian, persoalan gerakan mahasiswa hari ini bukan semata-mata karena Gen Z tidak memiliki figur. Persoalannya lebih mendalam, mekanisme reproduksi pengetahuan, pengalaman, dan kepemimpinan dalam gerakan mulai berubah.
Jika dahulu kader belajar dari manusia yang hadir secara langsung, sekarang kader belajar dari berbagai sumber yang hadir melalui layar. Jika dahulu arah gerakan dibentuk melalui proses konsolidasi yang panjang, sekarang arah gerakan dapat terbentuk melalui kecepatan informasi.
Maka, gerakan mahasiswa tidak perlu menolak teknologi. Yang perlu ditolak adalah ketika teknologi menggantikan proses berpikir.
Media sosial seharusnya menjadi alat gerakan, bukan kompas gerakan. Influencer dapat menjadi salah satu sumber informasi, tetapi tidak seharusnya mengganti proses kaderisasi. Viralitas dapat membantu membangun perhatian, tetapi tidak boleh menjadi ukuran utama keberhasilan perjuangan.
Pada akhirnya, gerakan mahasiswa membutuhkan bukan sekedar patron baru, melainkan tradisi baru dalam melahirkan patron. Sebuah tradisi yang mampu mempertemukan pengalaman gerakan masa lalu dengan realitas digital hari ini. Sebab, persoalannya bukan apakah gerakan mahasiswa harus kembali pada masa lalu. Bukan pula apakah Gen Z harus mengikuti pola gerakan genarasi sebelumnya.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah apakah generasi mahasiswa hari ini mampu membangun proses kaderisasi yang melahirkan pemikir, pengorganisir, dan pemimpin gerakan yang dapat menjadi rujukan bagi gerakan hari ini?
Jika jawabnya tidak, maka gerakan akan terus bergerak dari satu momentum ke momentum lainnya. Ia akan cepat merespons, tetapi lambat membangun. Cepat berkumpul, tetapi sulit mengonsolidasikan. Ramai ketika isu muncul, tetapi kehilangan arah ketika isu tersebut selesai.
